1. ADHD Vs Autis.

ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) adalah gangguan perkembangan otak anak yang terjadi karena terjadi peningkatan aktivitas motorik anak-anak. ADHD atau yang lebih dikenal dengan hiperaktif menyebabkan kegiatan yang dilakukan anak-anak menjadi tidak lazim dan berlebihan.

Beberapa kriteria anak hiperaktif selain menyukai dan melakukan kegiatan yang berlebihan, mereka memiliki kesulitan mengikuti arah, dan menyelesaikan tugas.

Autis, atau dalam bahasa psikologi Autism Spectrum Disorder, adalah gangguan perkembangan saraf seseorang karena faktor hereditas dan sudah dapat terdeteksi sejak bayi berumur 6 bulan. Autisme bukan golongan penyakit kejiwaan karena gangguan ini menyebabkan otak tidak dapat berfungsi secara normal.

Gejala sudah muncul selambat-lambatnya umur tiga tahun. Penderita autisme akan mengalami masalah beraktivitas, bahasa, dan interaksi.

2. Bedanya Beraktivitas Ala Aanak ADHD dan Autisme

ADHD dan Autisme sudah jelas memiliki perbedaan yang mencolok. Anak penderita ADHD susah untuk mengerjakan sesuatu. Pandangan anak ADHD sering terganggu dan tidak bisa fokus dalam mengerjakan tugas. Penderita autis justru berkebalikan, mereka cenderung ingin fokus terhadap apa yang mereka sukai.

Autis yang berasal dari kata ‘auto’ menandakan bahwa anak autis berada di dunia mereka sendiri. Inilah yang menyebabkan anak autis selalu diam dan fokus terhadap hal tertentu.

Perbedaan selanjutnya adalah perubahan aktivitas. Anak yang menderita ADHD cenderung tidak menyukai aktivitas yang rutin. Perkembangan anak yang hiperaktif membuat anak tersebut ingin melakukan sesuatu sesuka hati anak. Hal ini berbanding terbalik dengan anak yang menderita autisme.

Anak autis justru tidak suka jadwal atau kegiatan yang tidak teratur dan sering berubah. Hal ini membuat mereka kebingungan dan frustasi.

3. Cara Berkomunikasi Yang Dilakukan ADHD dan Autisme

Anak penderita ADHD cenderung akan sering berbicara tanpa henti. Ucapan yang dikatakan penderita ADHD sering sekali tidak memiliki arti. Anak ADHD juga cenderung tidak ingin mendengarkan orang lain. Selain itu, penderita ADHD dalam berkomunikasi biasanya menyela orang, blak-blakan secara tidak tepat dan mungkin sulit memahami isyarat nonverbal.

Anak penderita autis memiliki kesulitan berkomunikasi ataupun berinteraksi. Komunikasi dijelaskan dengan selalu ada jeda dalam berbicara atau bisa dengan perulangan kata atau frase tertentu. Anak autis dalam berinteraksi juga sedikit canggung. Mereka susah atau hampir tidak bisa melihat kontak mata dengan lawan bicara.

  • Dampak Emosional dan Sosial

Dampak sosial atau lingkungan bagi anak ADHD dan autis hampir sama. Sifat anak penderita ADHD yang sulit diatur dapat menyulitkan untuk mendapatkan teman. Anak ADHD karena tingkah lakunya yang suka menyela dan blak-blakan membuat diri mereka terlihat seperti orang yang buruk atau jahat.

Begitu pula dengan sifat anak autis yang memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi, bahasa verbal, dan perilku. Anak autis yang susah berkomunikasi akan susah untuk mendapatkan teman.

  • Cara Menanganinya

Cara terbaik untuk memaksimalkan potensi anak dan mengurangi gangguan tersebut adalah dengan melakukan terapi sedini mungkin. Terapi yang dilakukan ada yang hanya memerlukan beberapa bulan waktu, tetapi ada pula yang harus dilakukan hingga dewasa.

Orangtua dianjurkan untuk menyesuaikan dengan lingkungan yang anak senangi agar mendorong usaha sang anak menjadi lebih baik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *